SAY HELLO ;)

Ketika Kehidupan itu keras, maka engkau jangan lunak. jangan keras pada dunia bersahatlah dengan dunia maka dunia akan menjadi sahabatmu. By Pundarika

"DHAMMA PUNDARIKA PUTTA-Hidup bagiakan Bunga Teratai, Tumbuh di lumpur namum Tidak terkotori oleh Lumpur"

Pemutaran Roda Dhamma

Pemutaran Roda Dhamma
Sumber : http://bhagavant.com/pemutaran-roda-dhamma
 
Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, muncul dalam pikiran Sri Bhagavā[1] mengenai betapa dalamnya, sungguh halusnya Dhamma yang telah ditemukan-Nya. Ia mempertanyakan apakah manusia dapat memahaminya. Namun setelah dengan welas asih-Nya, Ia memindai seluruh dunia dengan menggunakan Mata Buddha-Nya (Buddhacakkhu), melihat bahwa ada manusia yang dapat memahami Dhamma yang ditemukan-Nya, maka Sri Bhagavā memiliki niat kuat untuk menyebarkan Dhamma. Kemudian Ia berkata: “Apārutā tesaṃ amatassa dvārā,. Ye sotavanto pamuñcantu saddhaṃ” – “Pintu menuju tiada kematian, Nibbana, sekarang telah terbuka. Akan Kubabarkan Dhamma kepada semua makhluk agar mereka yang memiliki keyakinan dan pendengaran yang baik bisa sama-sama memetik manfaatnya.”
 

Guru Menurut Buddhism


Guru merupakan tenaga pendidik yang berperan aktif daam proses belajar mengajar dan memiliki potensi untuk memberikan pengarahan dan memununtun siswa untuk belajar. Guru adalah tenaga profesiona di bidang kepribadian yang memahami hal yang bersifat filosofis dan konseptual, seorang guru memahami baik dan kewajiban, dan selalu memberikan bimbingan.

Guru adalah sebagai penerusan nilai, pengetahuan, kemampuan, sikap, dan tingkah laku, yang dalam arti luas pendidikan merupakan hidup itu sendiri (dan belajar itu seumur hidup), sebagai proses menyingkirkan kebodohan dan mendewasakan diri menuju kesempurnaan (Mukti, 2003 : 304).
Menurut Buddha dengan melindungu diri sendiri seseorang akan melindungi orang lain. Dengan melindungi orang lain seseorang akan melindungi diri sendiri (S.V:168).
Buddha memberikan petunjuk kepada ananda tentang cara mengajar agar memenuhi lima hal yaitu : Mengajar setahap demi setahap, mengajar dengan alas an atau berdasarkan sebab yang mendahului sehingga mudah dimengerti, mengajar karena dorongan cinta kasih, dan mengajar tanpa merugikan orang lain (A.III.184).
Guru mengajar demi kepentingan anak didiknya. “bagaimanapun cunda, atas dasar cinta kasih, apa yang harus dilakukan oleh seorang guru yaitu mengusahakan kebahagiaan bagi murid-murisnya. Itulah yang akan dilakukan terdorong oleh cinta kasih kepadamu (M.I.46).
Ia tidak membimbing di depan orang banyak, ceramah tidak kehilangan arah, tanpa ada yang disembunyikan, tidak ragu-ragu berbicara dan tidak menjadi bingung atau marah menghadapi pertanyaan (A.IV.196).
Buddha sebagai guru menunjukkan jalan, dan setiap orang harus berusahan dan menempuh jalannya sendiri (Dh.A.276). mengikuti apa yang ditunjukkan oleh buddha, guru sebaiknya mendorong siswa mengembangkan diri yang baik, inovatif, sebagai fasitator dan mendorong siswa untuk berprestasi. Guru harus terbuka dan dapat menerima gagasan siswa dalam arti berusahan dan menambahinya.

 

KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA



a.    Kurikulum Pendidikan Agama Buddha

Sumber : aktn.deviantart.com
Pendidikan berperan penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk pengembangan ajaran Buddha. Pendidikan memiliki kaitan erat dan tidak dapat dipisahkan dengan kurikulum. Hubungan kuriklum dan pendidikan adalah hubungan antara isi dan tujuan. Pendidikan agama Buddha adalah usaha yang dilakukan terencana dan berkesinambung dalam pengembangan kemampuan perserta didik untuk memperteguh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, serta peningkatan potensi spiritual.
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Dhamma Pundarika Putta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger