a. Kurikulum
Pendidikan Agama Buddha
![]() |
| Sumber : aktn.deviantart.com |
Pendidikan dalam agama Buddha dapat dikatakan bersifat
pragmatis menyangkut pemecahan masalah untuk mencapai tujuan hidup manusia.
Filosofi pendidikan agama Buddha mengacu kepada empat kebenaran mulia (cattari Ariya saccani), yaitu
mengidentifikasi duka, asal mula duka, lenyapnya duka dan jalan menuju
lenyapnya dukkha (Mukti,2006.305).
Pendidikan adalah penerusan nilai-nilai, pengetahuan,
kemampuan, sikap dan tingkah laku, yang dalam arti luas pendidikan merupakan
hidup itu sendiri sebagai proses menyingkirkan kebodohan dan mendewasakan diri
menuju kesempurnaan. Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan untuk mengubah
pandangan hidup dari seseorang, membentuk manusia yang bertanggung jawab,
menjadi manusia yang berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain
(Mukti.2006.304).
Tujuan umum pendidikan umum pendidikan tak berbeda dengan
tujuan pembabaran agama sebagaimana yang sampaikan oleh Buddha kepada enam
puluh orang arahat. Mereka mengemban misi atas dasar kasih sayang, demi
kebaikan, membawa kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan bagi orang
banyak. (Vin.1.21), memiliki
pengetahuan dan keterampilan merupakan salah satu berkah utama (S.261).
b.
Paradigma Pendidikan Agama Buddha
Pendidikan pada dasarnya bersifat terbuka, tidak ada yang
disembunyikan (D.III.100). Buddha
menyangkal adanya otoritas segolongan masyarakat tertentu, yakni kasta brahmana
memonopoli kewenangan agama dan bersifat diskriminatif. Pandangan egalitarian
yang melihat semua orang sederajat ini, membuat Buddha menjalani kehidupan
rakyat biasa. Membentuk suatu struktur monastik yang dinamakan Sangha,
menampung murid dari berbagai golongan masyarakat.
Buddha dalam membabarkan Dhammanya tidak pernah
membeda-bedakan orang yang diajarkan,
baik itu bodoh, miskin, kaya, setan, jin, raja, serta dewa sekalipun. Buddha
memberikan semua ajarannya tanpa merahasiakan sedikitpun yang telah ia dapat
sehingga banyak murid-muridnya yang mencapai tingkat-tingkat kesucian dalam
waktu relatif singkat.
Buddha tidak menghendaki pendidikan yang menghasilkan
sebarisan orang buta yang saling menuntun (M.II.170).
Buddha juga menganjurkan agar tidak segera percaya terhadap suatu ajaran,
apakah itu berupa tradisi hingga yang tertulis dalam kitab suci sekalipun,
sebelum diselidiki sendiri benar (A.I.191).
Buddha sangat menghargai kebebasan berpikir. Karena itu pendidikan dalam
perspektif agama Buddha tidak bersifat otoriter, melainkan bersifat demokratis.
Bahkan Buddha tidak menginginkan adanya ketergantungan kepada diri-Nya, dan
tidak menunjuk pengganti sebagai pemegang otoritas setelah parinibbana (D.II:100).
Dharma yang diajarkan oleh Buddha mengundang untuk
dibuktikan, disebut ehipassiko, artinya ‘datang dan lihat’ (A.III.285). Karena pendidikan memberi tempat yang seluas-luasnya
pada pengujian, pemahaman yang rasional dan pengalaman empiris. Dalam
praktiknya orientasi pendidikan harus pada proses. Suatu proses pada dasarnya
merupakan rangkaian sebab dan akibat. “Seseorang yang melihat sebab akibat,
melihat Dharma” (M.I.191).
c.
Strategi dan Metode Pendidikan Agama Buddha
Kegiatan belajar dan pembelajaran dalam dunia pendidikan
memerlukan strategi-strategi dan metode-metode tertentu agar tercapai tujuan
dari pendidikan. Buddhapun memilih suatu strategi khusus, yaitu dengan
mendahulukan orang-orang dengan kaulitas batin yang baik sehingga mampu
menangkap ajarannya dan terjamin dapat mencapai pencerahan dalam waktu singkat.
Untuk memulai suatu pengajaran harus didahului dengan perencanaan yang baik.
Perencanaan yang baik harus mencakup beberapa faktor.
Faktor-faktor dalam perencanaan pengajaran, adalah:
1)
Tujuan, yaitu sasaran yang hendak dicapai dalam
pengajaran. Dalam agama Buddha, tujuan pengajaran Sang Buddha adalah
pembebasan.
2)
Metode, yaitu salah satu alat untuk menyajikan
bahan belajar dalam rangka pencapaian tujuan. Buddha mengajarkan Dhamma dengan
kotbah-kotbah, dengan menunjukkan kekuatan batin, dengan praktek-praktek nyata,
dan sebagainya.
3)
Alat Pelajaran, yaitu alat untuk lebih
mengefisienkan pencapaian tujuan.
4)
Materi pelajaran, yaitu sarana untuk mencapai
tujuan. Materi pelajaran Buddha adalah Dhamma (kebenaran).
5)
Strategi, yaitu kegiatan yang terpilih yang dapat
memberikan bantuan siswa dalam menuju tercapainya tujuan. Buddha mengajarkan
Dhamma dengan strategi-strategi khusus yang disesuaikan dengan kemampuan orang
yang akan diajar.
6)
Siswa, yaitu obyek sekaligus subyek dalam
pengajaran.
7)
Situasi, dalam perencanaan pengajaran harus
didasarkan pada situasi yang ada untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Kondisi belajar
mempengaruhi keadaan fisik dan psikis seseorang. Misalnya, latihan meditasi
memerlukan lingkungan yang sesuai dengan obyek. Dalam sejarah disebutkan bahwa
Buddha memilih hutan sebagai lingkungan yang paling baik untuk melatih diri (Dh.99).

Posting Komentar