Pemutaran Roda Dhamma
Sumber : http://bhagavant.com/pemutaran-roda-dhamma
Setelah mencapai Pencerahan Sempurna,
muncul dalam pikiran Sri Bhagavā[1] mengenai betapa
dalamnya, sungguh halusnya Dhamma yang telah ditemukan-Nya. Ia mempertanyakan
apakah manusia dapat memahaminya. Namun setelah dengan welas asih-Nya, Ia
memindai seluruh dunia dengan menggunakan Mata Buddha-Nya (Buddhacakkhu),
melihat bahwa ada manusia yang dapat memahami Dhamma yang ditemukan-Nya, maka
Sri Bhagavā memiliki niat kuat untuk menyebarkan Dhamma. Kemudian Ia berkata: “Apārutā
tesaṃ amatassa dvārā,. Ye sotavanto pamuñcantu saddhaṃ” – “Pintu menuju
tiada kematian, Nibbana, sekarang telah terbuka. Akan Kubabarkan Dhamma kepada
semua makhluk agar mereka yang memiliki keyakinan dan pendengaran yang baik
bisa sama-sama memetik manfaatnya.”
Setelah memantapkan niat untuk
mengajarkan Dhamma, Sri Bhagavā lalu menimbang-nimbang kepada siapakah Ia perlu
mengajarkan Dhamma untuk pertama kalinya, siapakah yang akan segera memahami
Dhamma yang Ia temukan. Lalu Ia berpikir bahwa Āḷāra Kālāma, salah satu
guru-Nya adalah orang yang bijaksana, terpelajar, dan berpikiran tajam, serta
sedikit debu saja di matanya. Jika Ia mengajarkan Dhamma pertama kalinya
kepadanya, Āḷāra Kālāma akan segera memahaminya. Namun kemudian Sri Bhagavā
mengurungkan niat-Nya setelah menyadari bahwa Āḷāra Kālāma telah meninggal
tujuh hari yang lalu.
Kemudian, Sri Bhagavā berpikir tentang
guru-Nya yang lain, Uddaka Rāmaputta, namun lagi-lagi Sri Bhagavā mengurungkan
niat-Nya setelah menyadari bahwa Uddaka Rāmaputta telah meninggal kemarin
malam.
Akhirnya Sri Bhagavā memikirkan kelima
petapa (pañcavaggiyā) yang melayani-Nya semasa Ia melakukan tapa berat
di Hutan Uruvelā. Dengan Mata Buddha-Nya yang murni melampaui kemampuan pandang
manusia, Ia mengetahui bahwa mereka tengah berdiam di Isipatana[2], di dekat Banārasī (Varanasi/Banāras/Benares).
Demikianlah, setelah tinggal di Uruvelā selama yang dikehendaki-Nya, Ia
berjalan menuju Banārasī, yang berjarak delapan belas yojana.
LIMA SISWA PERTAMA
Pada senja yang sejuk, di hari purnama
bulan Āsāḷha, 588 S.E.U, Sri Bhagavā tiba di Taman Rusa di Isipatana. Kemudian,
ketika kelima petapa melihat Sri Bhagavā semakin dekat, mereka mulai
memperhatikan bahwa Ia tidak tampak seperti Petapa Gotama yang dulu mereka
layani di Hutan Uruvelā selama enam tahun. Mereka melihat bahwa tubuh-Nya
bercahaya cemerlang tiada banding, dan mereka juga mendapatkan kesan tenteram
dan damai dari diri-Nya. Tak seorang pun di antara mereka yang sadar apa yang
tengah terjadi karena mereka akhirnya tak kuasa menaati kesepakatan awal mereka
yang menolak menghormati-Nya. Dengan segera mereka berdiri. Salah satu mendekati-Nya
dan membawakan mangkuk serta jubah luar-Nya; yang lain menyiapkan tempat duduk;
yang lainnya membawakan air, tatakan kaki, dan handuk untuk mencuci kaki-Nya.
Dan setelah Sri Bhagavā duduk, mereka memberikan hormat dan menyapa-Nya.
Setelah itu, Sri Bhagavā menyatakan
bahwa diri-nya telah berhasil mengatasi kelahiran dan kematian dalam hidup ini
dan akan mengajarkan Dhamma yang Ia temukan kepada mereka. Dan setelah kelima
petapa itu dapat diyakinkan oleh Sri Bhagavā, kelima petapa itu duduk diam, dan
siap menerima petunjuk-Nya.
Sri Bhagavā membabarkan kotbah
pertama-Nya, Dhammacakkappavattana Sutta (Sanskerta: Dharmacakra
Pravartana Sūtra – Khotbah Mengenai Pemutaran Roda Dhamma)[3]. Dalam khotbah ini, Sri Bhagavā membabarkan kepada
kelima petapa tersebut mengenai keberadaan dua jalan ekstrem – yaitu pemanjaan
diri dan penyiksaan diri – yang harus dihindari oleh orang yang telah
meninggalkan keduniawian. Kemudian Ia membabarkan Empat Kebenaran Mulia (Pali: cattāri
ariyasaccāni; Sanskerta: catvāri āryasatyāni). Ia juga menunjukkan
praktik Jalan Tengah (Pali: majjhimā paṭipadā; Sanskerta: madhyamā-pratipada),
yang terdiri dari delapan faktor, yang juga disebut Jalan Mulia Berfaktor
Delapan (Pali: ariyo aṭṭhaṅgiko maggo; Sanskerta: āryāṣṭāṅgamārga).
Kelima petapa mendengarkan dengan
saksama dan membuka hati mereka terhadap ajaran-Nya. Dan ketika khotbah itu
tengah dibabarkan, pandangan tanpa noda dan murni terhadap Dhamma muncul dalam
diri Koṇḍañña. Ia memahami: “Yaṃ kiñci samudayadhammaṃ sabbaṃ taṃ
nirodhadhammaṃ” – “Apa pun yang muncul pasti akan berakhir”. Demikianlah,
ia menembus Empat Kebenaran Mulia dan mencapai tataran kesucian pertama,
Memasuki Arus (Pali: Sotāpatti; Sanskerta: Srotāpatti)[4] pada akhir pembabaran itu. Karena itu, ia juga dikenal
sebagai Aññata Kondañña – Kondañña Yang Mengetahui. Lalu ia memohon penahbisan
lanjut (Pali, Sankserta: upasampadā) kepada Sri Bhagavā. Untuk itu, Sri Bhagavā
menahbiskannya dengan berkata: “Ehi bhikkhu, svākkhāto Dhammo caro
brahmacariyaṃ sammā dukkhasa antakiriyāyā” – Mari, Bhikkhu, Dhamma telah
dibabarkan dengan sempurna. Jalanilah hidup suci demi berakhirnya penderitaan secara
penuh”. Dengan demikian, ia menjadi bhikkhu pertama dalam Buddha Sasana melalui
penahbisan Ehi Bhikkhu Upasampadā, “Penahbisan Mari Bhikkhu”.
Setelah itu, ketika ketiga petapa
lainnya pergi menerima dana makanan, Sri Bhagavā mengajarkan dan memberikan
bimbingan Dhamma kepada Vappa dan Bhaddiya. Mereka akhirnya menjadi murni dan
mencapai tataran kesucian Sotāpatti. Dengan segera mereka memohon untuk
ditahbiskan sebagai bhikkhu di bawah bimbingan-Nya. Keesokan harinya, Mahānāma
dan Assaji juga menembus Dhamma dan menjadi Sotāpanna. Tanpa jeda lagi
mereka juga memohon penahbisan lanjut dari Sri Bhagavā dan menjadi bhikkhu.
Dengan demikian, kelima petapa itu menjadi lima siswa bhikkhu yang pertama,
yang juga dikenal sebagai “Bhikkhū Pañcavaggiyā”. Sejak saat itu,
Persamuhan Bhikkhu (Sangga Bhikkhu)[5] terbentuk.
Setelah kelima bhikkhu itu menjadi Sotāpanna,
pada hari kelima Sri Bhagavā membabarkan Anattalakkhaṇa Sutta (Sanskerta:
Anātmalakṣaṇa Sūtra – Khotbah Mengenai Ciri Tiadanya Inti Diri)[6], yang dibabarkan sebagai tanya-jawab antara Sri Bhagavā
dan kelima siswa suci-Nya. Pada intinya, Sri Bhagavā menyatakan bahwa bentuk
(Pali, Sanskerta: rūpa), perasaan (Pali, Sanskerta: vedanā),
pencerapan (Pali: sañña; Sanskerta: saṃjñā), bentukan batin
(Pali: saṅkhāra; Sankserta: samskāra), dan kesadaran (Pali:
viññāṇa; Sanskserta: vijñāna) adalah selalu berubah; dan apa yang selalu
berubah tidaklah memuaskan (dukkha). Kemudian, kesemuanya ini yang
selalu berubah dan tidak memuaskan, harus dilihat sebagaimana adanya dengan
pengertian benar: “Ini bukan milikku (n’etaṃ mama); ini bukan aku (n’eso’hamasmi);
ini bukan diriku (na m’eso atta)”.
Mendengar kata-kata-Nya, kelima
bhikkhu tersebut menjadi gembira dan bahagia. Dan setelah Sri Bhagavā
membabarkan khotbah ini, pikiran mereka terbebas dan kotoran batin, tanpa
kemelekatan; mereka mencapai tataran kesucian Arahatta[7].
PARA DUTA DHAMMA PERTAMA
Setelah Sri Bhagavā memberikan
Pencerahan kepada kelima petapa, Beliau bersama kelima siswa pertama-Nya itu
berdiam di Taman Rusa di Isipatana untuk melewati musim hujan. Dan ketika Sri
Bhagavā sedang berjalan-jalan ditempat terbuka, Ia bertemu putra seorang
saudagar kaya, bernama Yasa yang mengalami kegundahan batin terhadap
kehidupannya dan pergi dari rumahnya. Yasa tidak lain adalah putra dari Sujātā
dari Senā-nigāma, seorang wanita yang pernah mempersembahkan nasi susu kepada
Petapa Gotama sebelum Pencerahan-Nya.
Setelah bertemu dengan Sri Bhagavā,
Yasa mendengarkan Dhamma yang dibabarkan oleh Sri Bhagavā dengan saksama. Dan
ketika batinnya sudah siap, bisa menerima, bebas rintangan, bersemangat, dan
yakin, Sri Bhagavā membabarkan Empat Kebenaran Mulia.
Ketika ayah Yasa mencari putranya yang
telah pergi dari rumah, ia pun bertemu dengan Sri Bhagavā. Kemudian Sri Bhagavā
juga mengajarkannya ajaran bertahap dan Empat Kebenaran Mulia seperti yang
telah dilakukan-Nya terhadap Yasa. Setelah pembabaran Dhamma selesai, ayah Yasa
mencapai tataran kesucian Sotāpatti dan mengambil pernaungan kepada Tiga
Permata (Pali: Tiratana; Sanskerta: Triratna – Buddha, Dhamma dan
Saṅgha). Ia kumudian mengundang Sri Bhagavā ke rumahnya. Setelah ayahnya
pergi, dengan hormat Yasa memohon penahbisan awal (Pali: pabbajjā;
Sanskerta: pravrajyā)[8] dan ditahbiskan
dengan “Ehi bhikkhu, pabbajjā” – “Mari Bhikkhu, tinggalkan keduniawian”
kemudian dilanjutkan dengan penahbisan lanjut. Demikianlah Yasa menjadi seorang
bhikkhu dan saat itu mencapai tataran kesucian Arahatta.
Saat fajar tiba, Sri Bhagavā disertai
enam siswa-Nya, menuju ke rumah Yasa untuk memenuhi undangan. Setelah
mengajarkan Dhamma kepada ibu Yasa yaitu Sujātā, dan mantan istri Yasa, mereka
menjadi Sotāpanna dan mengambil pernaungan kepada Buddha, Dhamma dan Saṅgha.
Begitu pula kelima puluh empat teman
Yasa yang empat diantaranya adalah sahabat karib Yasa yang bernama Vimala,
Subāhu, Puṇṇaji, dan Gavampati, mereka juga menerima pengajaran dari Sri
Bhagavā, menerima penahbisan menjadi bhikkhu, dan mencapai tataran kesucian Arahatta.
Demikianlah, pada saat itu terdapat
enam puluh satu Arahant di dunia, yaitu, Buddha, Bhikkhū Pañcavaggiyā,
Bhikkhu Yasa, dan kelima puluh empat sahabat Yasa.
Pada saat berakhirnya tiga bulan masa
kediaman musim hujan (Pali: vassā; Sanskerta: varṣā), Sri Bhagavā
telah mencerahkan enam puluh tiga orang. Di antara mereka, enam puluh orang
mencapai tataran kesucian Arahatta dan memasuki Persamuhan Bhikkhu,
sementara yang lainnya – ayah, ibu, dan mantan istri Yasa menjadi Sotāpanna
dan terkukuhkan sebagai siswa awam sampai akhir hayat mereka. Kemudian, Sri
Bhagavā bermaksud menyebarkan Dhamma kepada semua makhluk di alam semesta,
tanpa memandang apakah mereka adalah dewa ataupun manusia, tanpa memandang
apakah mereka berkasta tinggi, rendah, atau paria; tanpa memandang apakah
mereka raja ataupun pelayan, kaya ataupun miskin, cantik ataupun buruk, sehat
ataupun sakit, patuh ataupun tidak patuh pada hukum.
Kemudian Sri Bhagavā berkata kepada
keenam puluh bhikkhu Arahant tersebut: “Caratha, bhikkhave, cārikaṃ
bahujanahitāya bahujanasukhāya lokānukampāya atthāya hitāya sukhāya
devamanussānaṃ. Mā ekena dve agamittha. Desetha, bhikkhave, dhammaṃ ādikalyāṇaṃ
majjhekalyāṇaṃ pariyosānakalyāṇaṃ sātthaṃ sabyañjanaṃ kevalaparipuṇṇaṃ
parisuddhaṃ brahmacariyaṃ pakāsetha. Santi sattā apparajakkhajātikā, assavanatā
dhammassa parihāyanti. Bhavissanti dhammassa aññātāro. Ahampi, bhikkhave, yena
uruvelā senānigamo tenupasaṅkamissāmi dhammadesanāyā.” (“Para Bhikkhu, Saya
telah terbebas dan semua ikatan yang mengikat makhluk hidup, baik para dewa
maupun manusia. Kalian juga telah terbebas dan semua ikatan yang mengikat
makhluk hidup, baik para dewa maupun manusia. Pergilah, para Bhikkhu, demi
kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, atas dasar welas asih kepada
dunia, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia.
Janganlah pergi berdua dalam satu jalan! Para Bhikkhu, babarkanlah Dhamma yang
indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya, dalam
makna maupun isinya. Serukanlah hidup suci, yang sungguh sempurna dan murni.
Ada makhluk dengan sedikit debu di mata yang akan tersesat karena tidak
mendengarkan Dhamma. Ada mereka yang mampu memahami Dhamma. Para Bhikkhu, Saya
sendiri akan pergi ke Uruvelā di Senā-nigāma untuk membabarkan Dhamma.”)
Demikianlah, Sri Bhagavā mengutus
keenam puluh siswa-Nya yang telah tercerahkan untuk mengembara dan satu tempat
ke tempat lain. Ini menandakan karya duta Dhamma[9] pertama dalam
sejarah umat manusia. Mereka menyebarluaskan Dhamma yang luhur atas dasar welas
asih terhadap makhluk lain dan tanpa mengharapkan pamrih apa pun. Mereka
membahagiakan orang dengan mengajarkan moralitas, memberikan bimbingan meditasi,
dan menunjukkan manfaat hidup suci.
Catatan:
[1] Pali: bhagavā; Sanskerta: bhagavant, bhagavan – berarti Yang Beruntung atau Yang Terberkahi atau Yang Termulia. Kata sri dalam bahasa Indonesia merupakan gelar kehormatan bagi raja atau orang besar dsb; yang mulia.
[2] Pali: Isipatana; Sanskerta: Rishipāṭhana – berarti tempat mengajar atau petirahan para resi atau waskitawan (Pali: isi; Sanskerta; rishi).
[3] Dhammacakkappavattana Sutta terdapat dalam Kanon Tipitaka Pali di Saṃyutta Nikāya 56.11 (Saṃyutta Nikāya: Mahāvagga 12.2.1 {Mahāvagga 1081} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD).
[4] Secara harfiah, Sotāpatti berarti memasuki (Pali, Sanskerta: āpatti) arus (Pali: sota; Sanskerta: srota). Orang yang mencapainya disebut Pemasuk Arus (Pali: Sotāpanna; Sanskerta: Srotāpanna).
[5] Pali: Bhikkhu Saṅgha (baca: biku sangga); Sanskerta: Bhikṣu Saṃgha (baca: biksu sangga).
[6] Anattalakkhaṇa Sutta disebut juga Pañcavaggiyā Sutta (Anattalakkhaṇa Sutta) terdapat dalam Kanon Tipitaka Pali di Saṃyutta Nikāya 22.59 (Saṃyutta Nikāya: Khandhavagga 1.6.7 {Khandhavagga 59} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD).
[7] Merupakan tingkat kesucian keempat dan terakhir. Secara harfiah, berarti berharga atau pantas atau unggul. Orang yang mencapainya disebut Yang Berharga atau Yang Pantas atau Yang Unggul (Pali: Arahant; Sanskerta: Arhant).
[8] Secara harfiah, pabbajjā berarti keluar meninggalkan rumah atau dunia. Kemudian menjadi istilah untuk penahbisan menjadi calon bhikkhu (Pali: sāmaṇera; Sanskerta: srāmaṇera).
[9] Duta Dhamma (Pali: Dhamma-duta; Sanskerta: Dharma-duta) merupakan orang yang diutus untuk melakukan tugas berupa menyebarkan Dhamma (Kebenaran).
[1] Pali: bhagavā; Sanskerta: bhagavant, bhagavan – berarti Yang Beruntung atau Yang Terberkahi atau Yang Termulia. Kata sri dalam bahasa Indonesia merupakan gelar kehormatan bagi raja atau orang besar dsb; yang mulia.
[2] Pali: Isipatana; Sanskerta: Rishipāṭhana – berarti tempat mengajar atau petirahan para resi atau waskitawan (Pali: isi; Sanskerta; rishi).
[3] Dhammacakkappavattana Sutta terdapat dalam Kanon Tipitaka Pali di Saṃyutta Nikāya 56.11 (Saṃyutta Nikāya: Mahāvagga 12.2.1 {Mahāvagga 1081} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD).
[4] Secara harfiah, Sotāpatti berarti memasuki (Pali, Sanskerta: āpatti) arus (Pali: sota; Sanskerta: srota). Orang yang mencapainya disebut Pemasuk Arus (Pali: Sotāpanna; Sanskerta: Srotāpanna).
[5] Pali: Bhikkhu Saṅgha (baca: biku sangga); Sanskerta: Bhikṣu Saṃgha (baca: biksu sangga).
[6] Anattalakkhaṇa Sutta disebut juga Pañcavaggiyā Sutta (Anattalakkhaṇa Sutta) terdapat dalam Kanon Tipitaka Pali di Saṃyutta Nikāya 22.59 (Saṃyutta Nikāya: Khandhavagga 1.6.7 {Khandhavagga 59} versi Chaṭṭha Saṅgāyana CD-ROM – CSCD).
[7] Merupakan tingkat kesucian keempat dan terakhir. Secara harfiah, berarti berharga atau pantas atau unggul. Orang yang mencapainya disebut Yang Berharga atau Yang Pantas atau Yang Unggul (Pali: Arahant; Sanskerta: Arhant).
[8] Secara harfiah, pabbajjā berarti keluar meninggalkan rumah atau dunia. Kemudian menjadi istilah untuk penahbisan menjadi calon bhikkhu (Pali: sāmaṇera; Sanskerta: srāmaṇera).
[9] Duta Dhamma (Pali: Dhamma-duta; Sanskerta: Dharma-duta) merupakan orang yang diutus untuk melakukan tugas berupa menyebarkan Dhamma (Kebenaran).
Posting Komentar